Kamis, 23 Juni 2011
Selamat ulang tahun Jakartee...
Kota adalah ruang geografis (urbs), sekaligus kewargaan (civitas). Jakarta sebagai ruang geografis tumbuh luar biasa namun Jakarta adalah kota dengan seribu wajah dan masalah.
HARI ini, 22 Juni, Jakarta berulang tahun ke 481. Angka itu sesungguhnya tidak mencerminkan seluruh sejarah keberadaan Jakarta. Hari lahir Jakarta merujuk pada tanggal pertempuran tentara Demak pimpinan Sultan Fatahillah dengan pasukan Portugis di Pelabuhan Sunda Kelapa, tanggal 22 Juni 1527. Fatahillah menang dalam pertempuran itu. Daerah yang berhasil dipertahankannya diberi nama baru, Jayakarta atau sekarang Jakarta.
Sejarah keberadaan Jakarta sudah berlangsung jauh sebelum itu. Jakarta yang kini menuju kota megapolitan berawal dari sebuah bandar atau pelabuhan kecil di muara Sungai Ciliwung pada jaman kerajaan Hindu-Tarumanagara pada abad ke 5 Masehi.
Bukti tentang hal itu berdasarkan informasi pada Prasasti Tugu yang hampir seribu empat ratus tahun tertanam di Tugu, Jakarta Utara. Tahun 1911 prasasti itu dipindahkan dan sekarang menjadi koleksi Museum Nasional sementara bekas tempat berdirinya kini tertutup jalan aspal.
Bandar di Muara Ciliwung itu terus berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi pada jaman Kerajaan Pakuan Pajajaran yang berpusat di Batutulis (Bogor), sekitar abad ke-14. Menurut catatan perjalanan Tome Pires, seorang musafir, dalam The Suma Oriental (1513), nama bandar di Teluk Jakarta itu adalah Kelapa. Karena pelabuhan itu masuk wilayah Sunda (Kerajaan Pakuan Pajajaran) maka pelabuhan itu kemudian bernama Sunda Kelapa.
Nama Sunda Kelapa bertahan hingga sekarang dan secara administratif Sunda Kelapa kini terletak di Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.
Pires yang berkebangsaan Portugis menulis, pelabuhan ini telah dikunjungi kapal-kapal dari Palembang, Malaka, Makasar, Madura, India, Tiongkok Selatan dan kepulauan Ryuku (Jepang). Pires pula yang menjadi salah satu utusan Gubernur Jenderal Portugis, d'Alboquerque, di Malaka yang tiba di Sunda Kelapa tahun 1522.
Dalam sejarah, kehadiran utusan dari Malaka itu dicatat sebagai kedatangan orang Portugis pertama ke Sunda Kelapa. Saat itu Portugis dan Pajajaran, di bawah kekuasaan Raja Samian atau Sangiang Surawisesa, mengadakan perjanjian persahabatan.
Ketika Portugis datang lagi tahun 1527 dengan niat untuk menguasai Sunda Kelapa, pelabuhan itu ternyata sudah dikuasai Kesultanan Demak. Pertempuran pun pecah. Sultan Fatahillah yang memimpin pasukan Demak berhasil mengusir Portugis. Ia lalu memberi nama Jayakarta, artinya kemenangan sempurna, untuk daerah yang berhasil dipertahankannya.
Tahun 1596 Belanda pertama kali datang ke Jayakarta di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Melalui VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) kedudukan Belanda di Jayakarta makin kokoh. Inggris lalu ikut meramaikan perebutan pengaruh dagang dan kekuasaan di Asia Tenggara, termasuk di Jayakarta, dengan ikut mengambil bagian dalam konflik yang terjadi di antara penguasa lokal.
Tahun 1618 warga Jayakarta, atas sokongan Inggris merebut pos-pos perdagangan Belanda. Namun tahun 1619, Belanda, dipimpin Jan Pieterszoon Coen, merebut kembali Jayakarta. Nama Jayakarta berganti jadi Batavia. Belanda membangun benteng dan pusat pemerintahan berupa balaikota serta sejumlah fasilitas lain sekitar 500 meter dari pelabuhan. Daerah bekas pusat pemerintahan itulah yang sekarang disebut kawasan Kota.
Kerajaan Mataram pada masa Sultan Agung dua kali, yaitu tahun 1628 dan 1629, mencoba merebut Batavia namun dua upaya itu gagal. Di bawah kendali VOC, Batavia terus berkembang menjadi kota pelabuhan yang sibuk dan terkenal di Asia Tenggara. Di sini pedagang Eropa, Arab, Cina, dan India bertemu. Belanda kemudian memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke selatan, yaitu ke Weltevreden (sekarang dikenal sebagai kawasan Medan Merdeka).
Tahun 1942 Jepang mendepak Belanda dari Nusantara. Pada masa Jepang, Batavia diubah menjadi Jakarta hingga sekarang ini. Setelah Indonesia merdeka, Jakarta menjadi ibukota negara. Status ini mendorong laju kencang pembangunan.
***
BAGAIMANA wajah Jakarta kini? Beginilah deskripsi tentang Jakarta dalam buku panduan wisata untuk turis mancanegara berjudul Indonesia yang diterbitkan Lonely Planet (edisi ke delapan, 2007):
"Di balik deretan gedung-gedung berkaca, beton-beton bertingkat, dan daerah kumuh yang sumpek, bagaimanapun Jakarta penuh dengan kejutan dan merupakan kota dengan banyak wajah. Dari jalan-jalan di daerah pecinaan yang berasap dan berbau harum masakan khas hingga ke kawasan kehidupan malam yang berdegung kencang, Jakarta merupakan kotak pandora yang dipenuhi mutiara-mutiara tak terduga.
Di sini memungkin untuk bersinggungan dengan calon pemimpin, artis, pemikir, penggerak Indonesia masa depan, serta melihat langsung hasrat terpendam banyak orang Indonesia untuk keluar dari kemiskinan yang menghimpit mereka sejak lahir..."
Jakarta memang kota dengan seribu wajah. Jakarta punya segudang simbol modernitas antara lain gedung berkaca dan beton bertingkat. Orang paling kaya dan berkuasa juga ada di Jakarta.
Namun Jakarta juga menyimpan segudang masalah. Dari persoalan kemacetan parah dengan fasilitas transportasi dan infrastruktur yang buruk, banjir dengan daerah resapan air yang terus menciut, overpopuplasi dengan angka urbanisasi yang sulit dikendalikan, sampah, hingga kantong-kantong kumuh dengan jumlah orang miskin yang terus bertambah.
Dosen STF Driyarkara, Karlina Supeli, pada peringatan Sewindu Fakta (Forum Warga Kota Jakarta), 30 Mei lalu mengemukakan, kota adalah ruang geografis dan bentuk-bentuk fisis (urbs), sekaligus kewargaan (civitas). Warga atau civis (orang kota) menurunkan pengertian civilitas, yang diterjemahkan sebagai keberadaban. Dengan pemahaman itu, city atau kota adalah situs dari civilitas di samping struktur fisik.
"Apa yang sangat khas dari kota, dalam pengertiannya yang paling asali, adalah keberadaban, dan bahwa seluruh aspek infrastuktur kota adalah demi menciptakan keberadaban," kata Karlina.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar